Pengelolaan obat program
dan penguatan sistem informasi kesehatan menjadi fokus dalam pertemuan evaluasi
penyusunan Rencana Kebutuhan Obat (RKO) dan Rencana Operasional Pengadaan (ROP)
obat program, yang meliputi program HIV/AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (ATM),
gizi, serta Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Kegiatan berlangsung di Balai
Pelatihan Kesehatan (Bapelkes), Selasa (8/9/2026).
Pertemuan tersebut juga
menjadi momentum evaluasi pengelolaan sistem informasi kesehatan, khususnya
melalui aplikasi e-Monev Obat dan SMILE, dalam mendukung pencatatan,
pemantauan, serta pelaporan pengelolaan obat dan vaksin.
Berdasarkan hasil evaluasi,
capaian ketersediaan obat esensial indikator di Puskesmas Kabupaten Buleleng
serta ketersediaan vaksin imunisasi dasar telah berada di atas standar nasional.
Capaian tersebut menunjukkan dukungan pengelolaan logistik kesehatan dalam
menjamin ketersediaan kebutuhan pelayanan di tingkat fasilitas kesehatan.
Meski demikian, Kementerian
Kesehatan memberikan catatan penting terkait optimalisasi ketersediaan obat
esensial di Instalasi Farmasi Kabupaten (IFK) sebagai buffer stock atau
persediaan penyangga. Penguatan buffer ini diperlukan untuk menjaga
kesinambungan ketersediaan obat di Puskesmas, terutama ketika terjadi Kejadian
Luar Biasa (KLB), kondisi kedaruratan, maupun kejadian tertentu yang
membutuhkan dukungan logistik kesehatan secara cepat.
Ketersediaan buffer obat
esensial menjadi penting untuk memastikan pemenuhan 40 item obat esensial yang
dibutuhkan dalam menunjang pelayanan kesehatan di tingkat Puskesmas. Dengan
demikian, meskipun ketersediaan obat di tingkat pelayanan telah memenuhi bahkan
melampaui standar, penguatan stok penyangga di IFK tetap perlu menjadi
perhatian.
Pertemuan tersebut dihadiri
oleh pengelola farmasi Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, pengelola aplikasi SMILE, Kepala Instalasi Farmasi Kabupaten
(IFK), serta pemegang program KIA, gizi, dan ATM.
Kegiatan menghadirkan
narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali serta Kementerian Kesehatan RI
melalui Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan. Berbagai masukan dan
hasil evaluasi menjadi bahan penguatan perencanaan kebutuhan serta pengelolaan
obat dan vaksin di daerah.
Melalui evaluasi dan penguatan sistem informasi yang dilakukan secara berkala, diharapkan perencanaan kebutuhan obat semakin tepat, pengelolaan logistik kesehatan semakin efektif, serta ketersediaan obat dan vaksin dapat terjamin secara berkesinambungan. Hal ini sekaligus mendukung kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi kondisi rutin maupun situasi kedaruratan kesehatan masyarakat.