Kamis (6/8), Perwakilan
dari Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng mengikuti Konferensi Epidemiologi ke-13
(National Scientific Conference of Epidemiology/NSCE) yang berlangsung pada 3–7
Agustus 2026 di Jakarta, dimana pertemuan ini menyoroti pentingnya penguatan
sistem deteksi dini dan respons terhadap berbagai ancaman kesehatan.
Salah satu isu utama yang
dibahas adalah pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan teknologi genomik
untuk mempercepat deteksi serta respons terhadap ancaman kesehatan. Pemanfaatan
teknologi tersebut perlu didukung kualitas data, validasi lokal, infrastruktur
yang memadai, serta tetap mengutamakan pengawasan manusia (human oversight)
dalam setiap pengambilan keputusan.
Konferensi juga menekankan
pentingnya integrasi data lintas sektor melalui pendekatan One Health,
yang mencakup kesehatan manusia, hewan, iklim, dan lingkungan. Deteksi dini
yang didukung data terintegrasi dinilai menjadi salah satu kunci untuk mencegah
terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) sebelum terjadi peningkatan kasus secara
signifikan.
Dalam penerapan One
Health, Amerika Serikat dan Thailand telah memiliki mekanisme koordinasi
lintas sektor yang berjalan secara operasional. Sementara itu, Indonesia terus
melakukan penguatan kelembagaan melalui National IHR Authority (NIA), termasuk
penguatan mandat dan koordinasi agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan.
Selain itu, surveilans air
limbah, riset One Health, dan Tenaga Cadangan Kesehatan dinilai perlu
diintegrasikan dalam satu rangkaian sistem, mulai dari deteksi dini,
investigasi hingga respons. Integrasi tersebut diharapkan dapat memperkuat
kesiapsiagaan dan kapasitas Indonesia dalam menghadapi ancaman wabah maupun
bencana kesehatan.
Melalui konferensi ini, penguatan kolaborasi lintas sektor, pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab, integrasi data, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam membangun sistem kewaspadaan kesehatan yang lebih adaptif dan responsif.