PERAN DAN PENGETAHUAN IBU DALAM PENCEGAHAN KEKAMBUHAN ALERGI MAKANAN PADA ANAK BALITA

  • Admin Dinkes
  • 22 November 2019
  • Dibaca: 631 Pengunjung

Penulis : dr. Muyassaroh, Sp.THT-KL dari RSUP Dr. Kariadi A. Pendahuluan : Alergi makanan merupakan reaksi  hipersensitivitas ato respon imun yang terjadi sesudah mengkonsumsi suatu jenis makanan yang mengandung allergen atau zat penyebab alergi.1

 Alergi merupakan penyakit umum yang ada dalam masyarakat. Penyebab alergi bisa dari mana saja, tanpa disadari datangnya, dan kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat meskipun alergi dapat menggangu penderita. Masyarakat masih beranggapan bahwa penyakit alergi bisa hilang dengan sendirinya. Penyakit alergi merupakan penyakit yang dapat hilang setelah diobati, kemudian muncul lagi jika obatnya telah habis, sehingga dapat diartikan alergi merupakan penyakit kambuhan yang tidak dapat diobati.2

 B.    Alergi Makanan pada Balita : Balita merupakan istilah yang umum untuk anak yang berusia antara 1 - 3 tahun atau yang disebut dengan batita dan anak prasekolah yang berusia antara 3 - <5 tahun. Pada saat usia batita, anak masih tergantung sepenuhnya kepada orang tua untuk melakukan kegiatan-kegiatan penting, seperti makan, buang air besar dan buang air kecil, dan mandi. Perkembangan dalam berbicara dan juga berjalan sudah mulai baik, akan tetapi kemampuan yang lain masih sangat terbatas.3

 Berdasarkan penelitian Candra (2011) menunjukkan sebagian besar 49% responden sensitif terhadap alergen makanan.  Jenis makanan yang paling banyak menyebabkan alergi pada anak-anak dan dewasa berturut-turut adalah udang, putih telur dan maizena. Susu sapi dan tepung terigu merupakan jenis makanan yang paling banyak menyebabkan alergi hanya pada anak-anak, sedangkan pada dewasa, makanan yang paling banyak menyebabkan alergi adalah kepiting. Di Amerika pada tahun 2011 orang yang menderita alergi makanan kira-kira 2-2,5 % terjadi pada orang dewasa dan 6-8 % terjadi pada anak.4

 Angka kejadian alergi pada anak di Indonesia belum dapat diketahui secara pasti, namun beberapa ahli memperkirakan sekitar 25-40% anak pernah mengalami alergi makanan.

 C.    Penyebab Alergi pada Anak : Penyebab dari alergi belum dapat diketahui dengan jelas dan pasti, akan tetapi ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya alergi. Faktor-faktor yang mempengaruhi alergi antara lain yaitu faktor pajanan alergi, genetik, dan imaturitas usus. Pajanan terhadap suatu alergen tergantung pada kebiasaan dan norma kehidupan disekitarnya. Orang tua lebih mengetahui makanan yang menjadi kesukaan anak yang bisa menyebabkan alergi, dan tidak jarang gejala alergi akan hilang jika bisa menghindari makanan pencetus alergi. Faktor pencetus sebenarnya bukan merupakan penyebab terjadinya alergi, namun menyulut terjadinya gejala alergi.1

 D.    Reaksi Gejala Alergi Makanan pada Anak : Pada prinsipnya setiap makanan bisa menimbulkan reaksi alergi terhadap anak-anak. Makanan yang sering menimbulkan gejala alergi pada anak-anak adalah telur, susu sapi, kacang-kacangan,gandum, makanan laut (seafood), dan kedelai.

 Reaksi gejala alergi yang disebabkan oleh makanan pada anak-anak bisa terlihat bermacam-macam pada tubuh, pada organ pencernaan, dapat terlihat pada kulit, pada organ pernapasan ataupun pada organ lainnya. Reaksi gejala alergi yang terjadi bisa ringan sampai berat, misalnya terasa gatal-gatal dikulit leher hingga terjadi syok yang bisa membahayakan jiwa.

Gejala seringkali sudah dijumpai sejak masa bayi. Makanan tertentu dapat menimbulkan gejala yang lain. Misalkan udang yang bisa menimbulkan urtikaria, sedangkan kacang-kacangan seperti kacang tanah bisa mengakibatkan pernapasan sesak. Susu sapi yang dikonsumsi oleh anak bisa menyebabkan gejala alergi pada saluran pernapasan, kulit, saluran pencernaan dan reaksi syok. Makanan lain juga dapat menimbulkan gejala serupa, bahkan buah-buahan dilaporkan menimbulkan reaksi syok.

 E.    Kekambuhan Alergi Makanan pada Balita : Kekambuhan alergi adalah frekuensi munculnya reaksi alergi makanan berulang pada pasien yang dinyatakan oleh diagnosis dokter. Kekambuhan alergi terdapat dua kategori yaitu kambuh ringan dan kambuh berat. Kategori kambuh ringan yaitu frekuensi kekambuhannya satu kali dalam dua bulan dan gejalanya sama dengan sebelumnya dan tidak ada gejala baru, sedangkan kambuh berat yaitu frekuensi kekambuhannya lebih dari atau sama dengan satu kali dalam satu bulan dan dengan gejala yang lebih berat dari sebelumnya.5

 Kejadian alergi makanan didalam tubuh terjadi akibat suatu proses dimana sel limfosit membentuk suatu antibodi yang mampu untuk mengikat antigen seperti kuman dan sebagainya. Apabila tubuh dalam kondisi normal, antigen tersebut tidak akan menyebabkan sakit, hal ini dikarenakan sel limfosit dapat memproduksi antibodi yang bisa melindungi tubuh. Antibodi yang dapat melindungi tubuh disebut immonoglobulin. Immunoglobulin yang terbentuk pada orang normal adalah IgA, IgM, dan IgG. Pada seseorang yang menderita alergi, jenis immonoglobulin yang terbentuk adalah IgE. Immonoglobulin ini tidak mampu melindungi tubuh, tetapi justru akan menimbulkan gangguan pada saluran pencernaan, kulit, atau saluran pernafasan. Gejala penyakit yang timbul tersebut kemudian disebut dengan alergi.5

 F.    Hubungan Peran Ibu dalam Pencegahan Kekambuhan Alergi Makanan pada Balita : Orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam menghindari hal-hal yangn menyebabkan terjadinya kekambuhan alergi. Pencegahan alergi yang dilakukan sejak dini akan menimbulkan pengurangan gejala alergi yang terjadi pada anak dikemudian hari, sehingga gejala alergi yang muncul tidak menjadi berat.5

Gejala alergi dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan, tenggorokan, mata, telinga, saluran pencernaan hingga kulit dapat mempengaruhi kesehatan anak dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Orang tua sering tidak menyadari dampak alergi pada kualitas hidup anaknya bahkan masa depannya sampai pada akhirnya anak menerima konsekuensi dari alergi yang dideritanya seperti bermain, susah tidur, dan sebagainya.
 
Orang tua yang mempunyai umur antara 20-<35 tahun memiliki pengalaman mendidik dan mengasuh anak yang lebih sedikit, kematangan dalam berpikir dan mengambil keputusan juga lebih rendah, sehingga orang tua memiliki peran yang kurang baik. Mubarok (2006) menyatakan dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental).
 
Pertumbuhan pada fisik yaitu perubahan ukuran, proporsi, hilangnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-ciri baru yang diakibatkan pematangan fungsi organ.Pada aspek psikologi atau mental taraf berpikir seseorang semakin matang dan dewasa.Saat anak mengalami kekambuhan alergi, dukungan dari orang tua sangat dibutuhkan.Orang tua harus bisa menyikapi dengan baik.Orang tua boleh bersikap tegas terhadap larangan makanan ataupun hal-hal lain yang memicu kekambuhan alergi, namun anak tidak boleh dimarahi ketika melanggar pantangan yang diberikan.
 
Memarahi anak saat alerginya kambuh bisa membuat anak merasa tertekan dan memicu terjadinya depresi, oleh karena itu peran orang tua sangat menentukan daya tahan dan stabilitas emosi anak.9 Hal ini sesuai dengan pendapat Graha (2010) yaitu orang tua berperan penting untuk membantu mengatasi masalah alergi pada anak, jika tidak ditangani dengan baik, alergi dapat menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya. Alergi yang awalnya dianggap ringan, bisa menganggu tumbuh kembang anak, membahayakan tubuh, memicu timbulnya berbagai komplikasi penyakit, dan dapat pula mengancam jiwa, sehingga pencegahan alergi sedini mungkin sangat dianjurkan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan pada kehidupan anak di kemudian hari.
 
Hasil penelitian Maria (2014) menunjukkan peran orang tua yang kurang baik dalam memberikan perlindungan menghindari allergen terhadap anak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan
Share Post :